Saat ini, media sosial sudah jadi bagian besar dari kehidupan anak dan remaja. Tapi di balik serunya berbagi dan berinteraksi online, banyak penelitian menunjukkan sisi gelapnya, loh, Momim &Dadin. Studi dari American Psychological Association (2023) menemukan bahwa penggunaan media sosial berlebihan berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi, kecemasan, dan gangguan tidur pada remaja. Namun tenang, ada solusi praktis yang bisa kita terapkan!
Mengapa Anak Mudah Kecanduan Media Sosial?
Bayangkan perasaan anak saat mendapat likes atau komentar positif di postingan mereka. Mungkin mereka merasa terlihat, diperhatikan, dan merasa menemukan orang yang peduli. Sayangnya, kebahagiaan sesaat ini bisa membuat mereka terus mencari validasi serupa, sehingga sulit lepas dari layar gadget.
Otak anak yang masih berkembang lebih rentan terhadap sistem reward yang ditawarkan media sosial. Setiap notifikasi memicu pelepasan dopamin, menciptakan siklus ketergantungan yang sulit diputus.

Strategi Praktis Mengurangi Ketergantungan
1. Buat Aturan Screen Time yang Jelas
Momim&Dadin perlu menetapkan batasan waktu yang konsisten. Misalnya, maksimal 2 jam per hari untuk media sosial, dengan jeda wajib setiap 30 menit. Gunakan timer atau aplikasi parental control untuk membantu monitoring.
2. Ciptakan “Digital Detox Zone”
Tentukan area bebas gadget di rumah, seperti ruang makan atau kamar tidur. Ini membantu anak memahami bahwa ada waktu dan tempat untuk berinteraksi tanpa media sosial.
3. Berikan Alternatif Aktivitas Menarik
- Ajak anak berkebun atau memasak bersama.
- Daftar kelas olahraga atau seni yang diminati.
- Organisir playdate dengan teman-teman sebaya.
- Buat project DIY yang seru dan edukatif.
4. Jadilah Role Model yang Baik
Jika Momim atau Dadin sering terlihat asyik dengan ponsel, mereka akan menganggap hal itu normal. Mulailah dengan memberi contoh penggunaan teknologi yang seimbang.

Komunikasi Terbuka adalah Kunci
Daripada melarang total, ajak anak berdiskusi tentang dampak positif dan negatif media sosial. Tanyakan perasaan mereka setelah menggunakan platform tersebut. Apakah mereka merasa senang, cemas, atau justru lelah?
Penelitian menunjukkan bahwa pendekatan komunikatif lebih efektif daripada pembatasan ketat. Anak yang memahami alasan di balik aturan cenderung lebih kooperatif.
Fokus pada Kualitas, Bukan Kuantitas
Alih-alih menghilangkan media sosial sepenuhnya, ajarkan anak menggunakan platform ini untuk hal-hal positif. Misalnya, mengikuti akun edukatif, berbagi karya seni mereka, atau terhubung dengan keluarga yang jauh.
Momim&Dadin perlu ingat, tujuan kita bukan menciptakan anak yang anti-teknologi, melainkan individu yang bijak memanfaatkan teknologi. Dengan kesabaran dan konsistensi, kita bisa membantu anak menemukan keseimbangan antara dunia digital dan kehidupan nyata.




