Dalam kolom Teman Curhat kali ini, Hackortu menghadirkan kisah seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk menikah, namun mulai merasakan keraguan dalam hubungannya.

Psikolog klinis dewasa yang berfokus pada kesehatan mental individu dewasa. Memiliki pengalaman dalam membantu klien mengembangkan pemahaman diri (self-awareness), mengelola emosi (emotional regulation), membangun relasi dan komunikasi yang sehat, serta edukasi terkait parenting berbasis psikologi dengan pendekatan yang praktis dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Saya sedang berada di fase mempersiapkan diri untuk menikah, tetapi belakangan ini mulai merasa galau dan ragu dengan hubungan yang saya jalani.
Di satu sisi, saya merasa nyaman dan sayang dengan pasangan. Namun di sisi lain, ada beberapa hal yang sejak awal terasa mengganjal, tetapi sering saya maklumi. Misalnya, pasangan saya kesulitan menolak permintaan keluarganya dalam hal finansial, bahkan sampai berdampak pada kondisi keuangannya sendiri. Selain itu, dalam obrolan tentang kehidupan setelah menikah, kami juga sempat berbeda pandangan soal peran dalam rumah tangga.
Hal-hal ini membuat saya merasa kurang sejalan, tapi di saat yang sama saya juga sering berpikir, mungkin ini masih bisa dimaklumi atau akan berubah seiring waktu. Saya jadi bingung membedakan, mana yang masih bisa ditoleransi dalam hubungan, dan mana yang seharusnya menjadi pertimbangan serius sebelum melangkah lebih jauh.
Bagaimana cara melihat hubungan ini dengan lebih jernih, tanpa terlalu dipengaruhi rasa nyaman atau takut kehilangan?
Jawaban dari Psikolog: Saat menjalin hubungan, hampir tidak mungkin pasangan terlepas dari konflik atau masalah.
Perbedaan pendapat, kesalahpahaman, atau ketidaksesuaian kebiasaan merupakan hal yang wajar terjadi. Meskipun sering dianggap sebagai hal kecil yang bisa dimaklumi, masalah yang berulang dengan pola yang sama dapat memberikan dampak jangka panjang dalam hubungan, terutama jika pasangan berencana melanjutkan ke jenjang pernikahan. Oleh karena itu, mempersiapkan pernikahan tidak hanya berkaitan dengan kesiapan fisik atau finansial, tetapi juga kesiapan psikologis. Kemampuan dalam mengambil keputusan bersama, menyelesaikan masalah secara sehat, serta memahami perbedaan nilai menjadi hal penting yang perlu diperhatikan sejak sebelum menikah.
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah membedakan antara ketidaknyaman yang masih bisa disesuaikan dan perbedaan nilai yang mendasar. Dalam hubungan, yang paling berpengaruh bukan seberapa sering terjadi masalah, tetapi jenis masalah yang diperdebatkan dan bagaimana cara menyelesaikannya. Beberapa hal biasanya masih bisa disesuaikan, seperti perbedaan gaya komunikasi, kebiasaan sehari-hari, atau selera dan hobi. Namun, ada juga hal yang perlu diperhatikan lebih serius, seperti pandangan tentang keuangan, batasan dengan keluarga atau pihak lain, pembagian peran dalam rumah tangga, serta cara mengambil keputusan penting. Perbedaan dalam hal-hal ini cenderung lebih mendasar dan dapat memengaruhi hubungan dalam jangka panjang. Perbedaan kecil cenderung bisa disesuaikan, tetapi perbedaan nilai yang mendasar perlu dipahami dan dibicarakan dengan lebih serius sebelum melangkah lebih jauh.
Saat kita memikirkan masalah dalam hubungan, kita perlu memastikan apakah masalah tersebut dapat dipecahkan atau bersifat permanen. Sebelum memecahkan masalah, yang pertama harus dilakukan adalah apakah kita dan pasangan dapat membangun dialog tentang masalah tersebut? Jika tidak, masalah akan buntu, tidak ada progress dan pada akhirnya menyebabkan ketidakpedulian emosional, atau tidak mencapai hasil apa pun. Salah satu strategi dalam memecahkan masalah secara positif dapat ditandai dengan adanya keterbukaan, kejujuran, saling menghargai dan memahami, serta kompromi dan negosiasi.
Namun, mengapa seringkali kita cenderung bertahan dalam hubungan, padahal sudah ada hal-hal yang mengganjal?
Situasi ini juga perlu menjadi perhatian, karena bukan hanya soal cinta atau cocok saja, tetapi ada juga kenyamanan, merasa tidak ada pilihan yang lebih baik, serta investasi dalam hubungan (sudah berapa lama menjalin hubungan, seberapa banyak usaha yang sudah diberikan, seberapa dekat dengan keluarga pasangan, atau bahkan sudah punya rencana masa depan). Pada titik ini kita bisa tetap bertahan bukan hanya karena hubungan itu membuat bahagia, tetapi juga karena merasa sudah terlalu banyak yang diberikan, sehingga dapat memunculkan pikiran, “Mungkin nanti dia bisa berubah”. Namun, pikiran ini perlu diuji, “Apakah sudah ada bukti perubahan atau hanya harapan?”
Kebingungan dalam hubungan membuat kita seringkali terjebak dalam emosi yang bercampur aduk, antara harapan, ketidaknyamanan, serta ketakutan di masa depan. Oleh sebab itu, diperlukan cara berpikir yang lebih jernih, terstruktur, dan berbasis pada realitas, bukan hanya perasaan sesaat. Langkah-langkahnya bisa dilakukan bersama pasangan, dimulai dengan:
Mengeluarkan isi pikiran dan perasaan dalam bentuk yang lebih konkret. Bisa dengan menuliskan secara terpisah hal-hal yang kita hargai dari pasangan, hal-hal yang mengganjal, serta kemungkinan jangka panjang dari masing-masing pasangan. Tujuannya agar masalah bisa lebih terpetakan, mengetahui sumber ketidaknyaman tersebut, serta dapat memahami secara lebih spesifik.

Mencoba membayangkan bagaimana kehidupan kita dengan pasangan dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan apabila kondisi saat ini tidak berubah. Bukan masalah apakah pasangan akan berubah, tapi apakah kondisi yang ada sekarang dapat diterima secara utuh dalam jangka panjang. Proses ini bertujuan agar menggeser fokus kita dari ‘harapan’ menuju penerimaan terhadap realita atau kenyataan kondisi yang terjadi.
Membahas isu-isu penting secara spesifik dan konkret bersama pasangan. Misalnya, bukan hanya membicarakan nilai tentang keuangan secara umum, tetapi menetapkan batas angka yang jelas terkait bantuan kepada keluarga, pembagian peran, pembahasan diarahkan pada situasi nyata, bukan sekadar idealisme. Tujuannya membantu kita dan pasangan memahami ekspektasi secara lebih jelas, dan mengurangi potensi kesalahpahaman.
Melihat pola, bukan hanya janji. Janji seringkali terdengar meyakinkan, namun yang lebih dapat diandalkan adalah perilaku yang sudah terlihat secara konsisten, sehingga bisa memprediksi dinamika hubungan di masa depan. Penting untuk memperhatikan apa yang sudah dilakukan oleh pasangan sejauh ini, bukan hanya janji apa yang akan dilakukan nanti.
Dalam menjalin hubungan, terutama menuju ke dalam pernikahan, keraguan yang kita rasakan bukanlah sesuatu yang harus ditekan atau segera dihilangkan. Tetapi justru harus digali dengan jujur sebelum menikah, sehingga diharapkan dapat menurunkan risiko ketidaknyamanan dan ketidakpuasan dalam pernikahan.
Ingin pertanyaanmu dijawab Teman Curhat? Kirim pertanyaanmu ke: hackortu@gmail.com dengan subject Teman Curhat.


