Dalam kolom Teman Curhat kali ini, Hackortu menghadirkan kisah seorang ibu yang merasa kewalahan menghadapi anak yang rewel, sementara pasangannya cenderung menghindar dari situasi tersebut.

Psikolog klinis anak dan remaja yang berpengalaman dalam pendampingan tumbuh kembang, masalah emosi dan perilaku, relasi orangtua–anak, serta intervensi berbasis terapi perilaku kognitif, stabilisasi emosi, dan terapi bermain.
Saya memiliki anak yang masih kecil dan sedang berada di fase sering rewel, terutama ketika keinginannya tidak terpenuhi. Dalam situasi seperti itu, saya berusaha untuk tetap sabar, tetapi jujur sering merasa lelah dan kewalahan.
Yang membuat situasi ini terasa lebih berat, pasangan saya justru cenderung menghindar. Alih-alih membantu menenangkan anak atau mendampingi saya, ia sering memilih keluar dari situasi tersebut, seperti keluar kamar atau bahkan pergi keluar rumah.
Akhirnya saya merasa harus menghadapi semuanya sendiri. Di satu sisi saya berusaha menghadapi kondisi anak, tetapi di sisi lain saya juga merasa bingung harus bersikap seperti apa terhadap pasangan.
Kira-kira apa yang sebaiknya saya lakukan dalam situasi seperti ini?
Jawaban dari Psikolog: Dalam pengasuhan akan selalu ada momen ketika kita merasa kewalahan baik secara fisik maupun mental. Rasanya kesulitan sendirian dan sering berpikir entah kapan masa-masa ini akan selesai. Saat ini, Ibu sedang berada di fase tersebut dan semua kelelahan serta kebingungan yang Ibu rasakan itu sangat wajar. Menghadapi anak yang kemampuan mengelola emosinya masih jauh dari matang memang menguras energi. Apalagi jika harus dihadapi sendirian, pasti berkali lipat bebannya.
Kita mulai bahas dari kondisi anak Ibu sekarang. Meskipun terlihat sangat rewel dan penuh pembangkangan, tapi sesungguhnya dia sedang dalam tahap belajar mengendalikan diri untuk menerima kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak selalu berjalan sesuai keinginannya. Akan muncul beragam emosi seperti marah, kecewa, frustrasi, dan malu, yang cukup kompleks dirasakan oleh anak. Gejolak emosi tersebut belum diiringi dengan kemampuan berkomunikasi yang baik karena kosakata anak yang masih terbatas. Akibatnya kesulitan anak dalam mengekspresikan perasaannya tersebut tampil dalam bentuk tangisan, kemarahan, atau rewel yang tiada henti. Dalam kondisi seperti ini, yang paling dibutuhkan anak ibu bukanlah segera “diperbaiki”, tapi didampingi. Kehadiran dan ketenangan Ibu saat memberikan anak ruang untuk mengekspresikan emosi-emosinya tersebut merupakan fondasi awal yang sangat penting dalam melatih regulasi emosi anak.
Namun, kita perlu jujur akan satu hal: Ibu juga manusia. Sama seperti Ibu lainnya, seorang manusia, yang tidak mungkin selalu bisa kuat, sabar, dan tenang. Ada kalanya kita menanggung beban lain dalam hidup yang membuat emosi kita tidak cukup stabil untuk bisa terus-terusan mendampingi emosi anak dengan damai.
Terlebih jika pasangan yang merupakan sandaran utama kita dalam hidup berumah tangga, malah menunjukkan respon yang tidak kita harapkan. Suami Ibu dirasakan menghindar dari konflik dengan anak, sehingga membuat Ibu merasa harus menghadapi masalah sendirian. Ada beberapa kemungkinan yang terjadi pada suami Ibu. Bisa saja dia menghindar karena tidak tahu harus berbuat apa, takut salah atau memperparah keadaan, atau memang tidak nyaman menghadapi ledakan emosi anak. Meskipun demikian, tetap saja ini bukan situasi yang bisa dibiarkan terus-menerus karena akan berdampak pada kesehatan mental Ibu dan juga hubungan antara anak dengan ayahnya kelak.
Ibu tetap bisa memahami alasan di balik perilaku pasangan, sambil tetap menyuarakan kebutuhan diri sendiri.
Saat situasi di rumah sedang kondusif yaitu ketika anak tidak sedang rewel dan Ibu juga tidak berkonflik dengan suami, Ibu bisa membuka percakapan dengan diawali membagi pengalaman saat kewalahan menghadapi anak: “Belakangan anak kita lagi sering sekali rewel dan marah-marah. Ada kalanya aku bisa sabar, tapi sering juga aku tidak tahan dan kelepasan emosi. Mengurus semuanya sendirian setiap hari, ternyata membuat aku sangat kewalahan. Memang tidak nyaman menghadapi kerewelan anak, tidak tahu harus berbuat apa dan rasanya ingin langsung pergi. Tapi aku butuh kamu juga hadir untuk mengasuh bersama, karena kalau aku terus sendirian, aku khawatir ini akan berdampak kepada kondisi mentalku.”
Dengan bentuk komunikasi seperti ini, pesan yang sampai tidak akan terkesan menyalahkan namun lebih kepada pengingat bahwa menjadi orang tua adalah kerjasama. Seringkali pasangan lebih bisa terbuka ketika mereka tidak merasa disalahkan atau disudutkan, tapi lebih kepada merasa dibutuhkan akan perannya dalam keluarga.
Setelah komunikasi terjalin dengan baik, perlu juga disampaikan kebutuhan Ibu untuk memiliki waktu istirahat sejenak dari rutinitas dengan melakukan hal-hal yang sifatnya merawat diri, tidak hanya untuk kesehatan fisik tapi juga kesehatan psikis. Ibu dapat berolahraga ringan minimal 30 menit sehari, melakukan hobi, bertemu dengan teman-teman, atau menghabiskan waktu sendirian di luar rumah selama beberapa jam.
Perlu dipahami bahwa anak belajar bukan hanya dari bagaimana orang dewasa merespon kebutuhan mereka, tapi juga dari bagaimana orangtuanya bekerja sama. Secara perlahan Ibu dan suami akan menemukan ritme dari peran masing-masing yang terus berproses seiring waktu berjalan. Dampak baik lainnya adalah membantu anak merasa lebih aman.
