Dalam kolom Teman Curhat kali ini, Hackortu menghadirkan kisah seorang ibu yang sering merasa kewalahan dan kelelahan hingga mudah marah bahkan sampai memukul anak.

Psikolog klinis dewasa yang berfokus pada penanganan isu kesehatan mental seperti kecemasan, relasi interpersonal, dan dinamika emosional pada individu dewasa.
Saya seorang ibu bekerja yang menjalani hubungan jarak jauh dengan suami. Anak saya saat ini berusia sekitar 3 tahun dan sedang aktif-aktifnya.
Belakangan ini saya sering merasa sangat kewalahan, terutama saat pulang kerja dan harus menghadapi kondisi rumah yang berantakan serta pekerjaan rumah yang belum selesai. Dalam situasi seperti itu, saya merasa mudah sekali lelah, bahkan sering ingin menangis.
Saya juga menyadari bahwa saya jadi lebih mudah marah ke anak. Beberapa kali, saya bahkan sampai memukul atau menendangnya saat sedang emosi. Setelah itu, saya selalu merasa bersalah. Saya biasanya meminta maaf dan menjelaskan ke anak kenapa saya marah, dan sering kali dia memaafkan saya bahkan memeluk saya.
Di sisi lain, saya juga merasa sedih karena waktu saya bersama anak sebenarnya sangat terbatas. Sehari-hari dia di daycare, tapi saat ada waktu bersama, saya justru sering terlalu lelah dan mengantuk untuk benar-benar menemani.
Saya tidak ingin terus menjadi ibu yang mudah marah seperti ini. Apa yang sebaiknya saya lakukan? Mohon sarannya.
***
Jawaban dari Psikolog: Terima kasih sudah bersedia bercerita secara jujur tentang apa yang Ibu rasakan. Saya rasa tidak selalu mudah mengakui hal seperti ini, dan justru keberanian Ibu untuk jujur adalah awal yang baik untuk semakin bertumbuh sebagai seorang ibu.
Pertama-tama, saya ingin Ibu tahu dulu bahwa apa yang Ibu alami itu sesuatu yang wajar dan sangat bisa dipahami.
Pada dasarnya, kapasitas emosi kita sebagai manusia itu terbatas. Ibu bekerja setiap hari, mengurus rumah sendirian, berjauhan dari suami, dan menemani anak yang sedang aktif-aktifnya. Semua itu berjalan bersamaan dalam waktu yang cukup panjang dan tanpa jeda. Kondisi itu tentunya menciptakan rasa lelah, baik secara fisik ataupun emosional. Di satu sisi, kelelahan secara langsung dapat menurunkan kemampuan kita untuk menahan diri. Saat tubuh sudah kelelahan, stimulus kecil pun bisa memicu reaksi yang besar. Kondisi Ibu yang lebih sensitif dan mudah marah bukanlah tanda Ibu tidak menyayangi anak, namun respons alamiah yang hadir dari adanya beban emosional dari berbagai peran yang sedang dijalani.
Rasa menyesal yang Ibu rasakan setelah marah juga punya penjelasannya. Amarah itu bekerja seperti gelombang. Ia naik perlahan, mencapai puncak, lalu mereda. Di puncaknya, kemampuan kita untuk berpikir jernih memang berkurang. Setelah amarah itu mereda, kita baru bisa melihat situasi dengan lebih tenang, dan rasa bersalah pun muncul. Rasa bersalah itu sebenarnya menandakan bahwa hati nurani Ibu masih sangat kuat dan ada keinginan memberikan pengasuhan yang terbaik untuk anak.

Berikut beberapa hal yang bisa Ibu mulai coba:
Kenali kapan Ibu paling rentan. Ibu perlu memperhatikan pola pemicunya. Apakah biasanya terjadi saat baru pulang kerja, saat lapar, atau saat melihat rumah yang berantakan? Dengan mengenali polanya, Ibu bisa bersiap lebih awal sebelum gelombang emosi tersebut memuncak dan membuat kita lebih sulit mengambil keputusan secara bijaksana.
Ambil jeda setelah pulang kerja. Ibu bisa mencoba memberi diri sendiri waktu 10 sampai 15 menit setelah pulang sebelum langsung mengurus segalanya. Luangkan waktu sebentar untuk minum teh, duduk, atau sekadar ganti baju dengan santai. Jeda kecil itu membantu pikiran dan tubuh Ibu beralih dari peran sebagai pekerja dan peran di rumah.
Turunkan ekspektasi terhadap waktu bersama anak. Anak usia 3 tahun tidak butuh aktivitas yang selalu meriah. Ibu yang berada di sampingnya sambil mengobrol dan menanggapi ocehan-ocehannya pun sudah sangat berarti baginya. Kehadiran yang tenang dan apa adanya lebih berkesan untuk anak selama itu dilakukan secara konsisten dan dengan memberikan perhatian penuh kepada anak di satu waktu.
Bangun support system yang baik. It takes a village to raise a child. Jika memungkinkan, Ibu dapat mendelegasikan tugas rumah tangga dan pengasuhan, atau memiliki teman-teman dekat yang bisa menjadi tempat bercerita sehingga tidak merasa sendirian dalam menjalani peran tersebut.
Ceritakan kondisi Ibu kepada suami. Suami perlu mengetahui beban yang Ibu tanggung sehari-hari. Pengasuhan adalah tugas bersama, sehingga perlu ada keterbukaan agar Ibu dan suami dapat mencari solusi bersama.
Pertimbangkan untuk menemui psikolog. Apabila Ibu merasa kelelahan dan beban emosional dari peran ibu saat ini mengganggu keseharian, Ibu dapat mencoba menjadwalkan sesi dengan psikolog. Psikolog bisa membantu menemukan strategi yang sesuai dengan kondisi Ibu secara spesifik, sekaligus memberi ruang yang aman untuk memproses semua ini tanpa harus terlihat kuat terus-menerus.
Pada akhirnya, tidak ada ibu yang sempurna, dan anak pun tidak membutuhkan ibu yang sempurna. Namun, anak perlu melihat sosok orang tua yang selalu mau belajar untuk menjadi lebih baik.
Ingin pertanyaanmu dijawab Teman Curhat? Kirim pertanyaanmu ke: hackortu@gmail.com dengan subject Teman Curhat.



