Dalam kolom Teman Curhat kali ini, Hackortu menghadirkan kisah seseorang yang merasa belum siap secara mental dan finansial untuk memiliki anak, namun mulai merasakan tekanan dari keluarga yang berharap ia segera memiliki keturunan.

Psikolog klinis dewasa yang berfokus pada kesehatan mental individu dewasa. Memiliki pengalaman dalam membantu klien mengembangkan pemahaman diri (self-awareness), mengelola emosi (emotional regulation), membangun relasi dan komunikasi yang sehat, serta edukasi terkait parenting berbasis psikologi dengan pendekatan yang praktis dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Saya dan pasangan sebenarnya sedang berada di fase mempertimbangkan untuk punya anak. Namun, jujur saya merasa belum benar-benar siap, baik secara mental maupun finansial.
Sebenarnya, saya ingin bisa mempersiapkan diri dengan lebih matang sebelum menjadi orang tua. Tapi, ada tekanan dari keluarga yang mulai sering menanyakan bahkan mendorong kami untuk segera memiliki anak. Hal ini membuat saya merasa dilema. Saya takut dianggap menunda tanpa alasan yang jelas, atau bahkan dinilai egois karena belum ingin punya anak dalam waktu dekat.
Saya jadi bingung, apakah wajar jika ingin menunda punya anak demi kesiapan diri, dan bagaimana cara menghadapi tekanan dari keluarga tanpa menimbulkan konflik?
***
Jawaban dari Psikolog: Dorongan dari keluarga atau orang-orang di sekitar kita untuk segera memiliki anak merupakan situasi yang seringkali tidak mudah untuk dihadapi. Dorongan ini pada dasarnya dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya, tradisi, serta norma-norma dalam memandang pernikahan, dan memiliki anak termasuk ke dalam ekspektasi masyarakat.
Sebagai contoh, norma sosial menetapkan bahwa pernikahan seharusnya secara alami berujung pada kelahiran anak. Hal ini dapat berpotensi menimbulkan tekanan emosional bagi pasangan suami istri yang merasa belum mampu atau tidak dapat memenuhi ekspektasi masyarakat tersebut.
Namun seiring berjalannya waktu, nilai, tradisi, serta norma-norma terus berkembang. Pengambilan keputusan ini merupakan hal yang sangat penting dan bukanlah pilihan yang sederhana. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi pasangan suami istri untuk mempertimbangkan memiliki anak di antaranya, kesehatan fisik dan mental, stabilitas finansial, nilai-nilai pribadi, kepuasan, serta ekspektasi keluarga soal memiliki anak.
Pada dasarnya setiap individu memiliki kebebasan untuk memutuskan apakah mereka akan menjadi orang tua atau tidak. Dukungan sosial terutama dari pasangan mampu membuat kita menjadi lebih kuat dan tidak mudah goyah saat menghadapi tekanan dari keluarga. Adapun beberapa cara yang bisa kita lakukan bersama pasangan dalam menghadapi tekanan dari keluarga dengan meminimalisir potensi terjadinya konflik, diantaranya:
Validasi perasaan keluarga agar suasana tidak memanas dan keluarga kita merasa didengar. Dengan cara ini, diharapkan keluarga lebih terbuka menerima perspektif baru.
“Kami paham Mama dan Papa pasti ingin segera memiliki cucu…”
Gunakan kata ‘kami’ ketika menjelaskan kepada keluarga. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan tersebut adalah hasil keputusan bersama dengan pasangan. Selain itu, penggunaan kata ‘kami’ ketika berdiskusi dengan keluarga akan melindungi dari tekanan yang hanya mengarah pada salah satu pasangan serta membantu menjaga boundary dengan keluarga tanpa menyalahkan mereka.
Tetapkan batasan secara halus tapi konsisten. Tidak perlu marah namun harus konsisten. Pada dasarnya pasangan yang sudah menikah merupakan satu kesatuan yang baru yang memiliki nilai, visi, misi yang baru, bukan lagi individu yang berdiri sendiri di bawah keluarga asal.

“Mohon doanya saja ya, nanti kalau ada kabar pasti kami cerita kok”
Menekankan tujuan yang sama dengan keluarga besar. Ini membuat kita sejalan dengan nilai keluarga, bukan melawan
“Kami lagi mempersiapkan dulu, agar nanti bisa jadi orang tua yang siap dan anaknya bisa tumbuh dengan baik”
Pada akhirnya keputusan terkait memiliki anak adalah bagian dari perjalanan pribadi setiap pasangan. Dengan komunikasi yang hangat, asertif, dan saling menghargai, kita tetap dapat menjaga hubungan baik dengan keluarga, sekaligus mempertahankan keputusan yang dirasa paling tepat. Tidak harus terburu-buru, apalagi membandingkan hidup dengan orang lain. Yang penting adalah kesiapan baik secara fisik, mental, relasi, maupun kondisi hidup secara keseluruhan.
***



