Dalam kolom Teman Curhat kali ini, Hackortu menghadirkan kisah seseorang yang merasa pola hubungan yang dijalaninya cenderung berulang dan menyakitkan, sehingga mulai mencari cara untuk memahami dan menghentikan siklus tersebut.

Psikolog yang berfokus pada penanganan trauma, kecemasan, dan berbagai tantangan emosional melalui pendekatan berbasis terapi. Ia juga mendampingi individu dalam memahami pola perilaku dan proses pemulihan diri, termasuk pada isu perkembangan anak, remaja, dan dinamika kehidupan dewasa.
Saya tumbuh dengan cerita keluarga yang cukup kompleks. Ibu saya adalah korban dari broken home sejak usia sangat kecil, dan baru mengenal ayahnya saat saya sudah berusia sekitar 11 tahun.
Dalam perjalanan hidupnya, ibu juga harus menghadapi banyak hal, termasuk merawat keponakannya yang merupakan hasil dari hubungan yang bermasalah di keluarganya. Melihat hal-hal tersebut, saya menyadari ada pola yang berulang dalam keluarga kami, terutama dalam hubungan yang tidak sehat/toxic relationship.
Pengalaman-pengalaman itu juga terasa berdampak pada diri saya. Saat memasuki masa kuliah, saya mencoba menjalani beberapa hubungan, namun justru kembali mengalami pengalaman yang menyakitkan dengan pola yang terasa mirip.
Seiring waktu, saya mulai berusaha memahami diri sendiri dengan lebih serius, seperti mengikuti kelas parenting dan membaca berbagai buku.
Saat ini, saya ingin memahami bagaimana cara menghentikan pola luka yang seolah terus berulang dari generasi ke generasi, agar tidak terus terbawa ke dalam hidup saya.
Saya ingin tahu, mengapa seseorang yang tumbuh di lingkungan dengan banyak luka justru bisa kembali terjebak dalam pola hubungan yang mirip, dan bagaimana cara pelan-pelan memulihkannya?
***
Jawaban dari Psikolog: Terima kasih telah dengan sadar mengakui dan berbagi pengalaman yang terasa menyakitkan ini. Banyak penelitian menunjukkan bahwa pengalaman masa kecil, terutama yang berkaitan dengan relasi orang tua, akan membentuk blueprint atau “peta” tentang bagaimana seseorang melihat hubungan. Konsep ini erat kaitannya dengan Attachment Theory, yang menjelaskan bahwa hubungan awal dengan caregiver atau pengasuh akan memengaruhi bagaimana kita merasa aman atau tidak dalam hubungan, cara kita dalam merespons konflik, serta bagaimana cara kita dalam memilih pasangan hidup.
Ketika seseorang tumbuh di lingkungan yang penuh ketidakpastian, konflik, atau relasi yang tidak sehat, otaknya belajar bahwa “Oh, hubungan itu memang seperti ini.” Bukan karena mereka ingin mengulang luka, tapi karena itu yang terasa familiar.
Pertanyaan selanjutnya adalah, kenapa kita bisa “tertarik” pada pola yang menyakitkan?
Ada beberapa penjelasan psikologis yang mungkin bisa menjelaskan hal tersebut:
- Familiarity Feels Like Safety. Otak manusia cenderung memilih yang familiar, bukan yang hal yang “sehat”. Jadi meskipun sebuah hubungan tidak sehat, jika itu mirip atau sama dengan pengalaman masa lalu atau masa kecil, rasanya justru “dikenal” dan otak akan langsung memilih dan fokus pada hal tersebut.
- Unfinished Emotional Business. Ada dorongan tidak sadar yang dimiliki oleh kita untuk “memperbaiki” masa lalu. Misalnya, kita dulu tidak mendapatkan kasih sayang. Ternyata kita sekarang cenderung mencari pasangan yang sulit dicintai, dengan harapan hubungan yang dibina dengan orang tersebut akan berhasil dan tidak akan seperti hubungan kita yang gagal di masa lalu.
- Modeling dan Imitasi. Anak belajar dari apa yang dilihat, bukan hanya dari apa yang diajarkan. Kalau dari kecil kita melihat konflik yang tidak sehat antar keluarga, komunikasi pasif-agresif, atau pengorbanan berlebihan, maka hal itu bisa jadi sebuah “template hubungan” di kepala.
- Core Beliefs (Keyakinan) yang Terbentuk. Pengalaman masa kecil bisa membentuk keyakinan seperti “Aku harus berjuang untuk dicintai” atau “Aku tidak pantas dapat hubungan yang sehat”. Tanpa sadar, keyakinan ini bisa sangat memengaruhi cara kita dalam memilih pasangan.
Namun, pola seperti ini sebetulnya bisa diputus.
Banyak orang mengulang pola perilaku tertentu tanpa pernah menyadarinya, padahal pola tersebut bisa saja berubah. Dalam pendekatan seperti Cognitive Behavioral Therapy (CBT), perubahan pola perilaku bisa dimulai dari menyadari pola kondisi dan situasi yang terjadi di lingkungan terutama lingkungan keluarga, memahami asal-usul hal atau kejadian tersebut terjadi, serta mengubah respon yang kita keluarkan secara bertahap.

Perlu diingat bahwa memutus intergenerational trauma bukan proses instan dan cepat. Namun, ada beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk pelan-pelan memulihkan diri.
- Mengenali Pola dengan Jujur. Kita bisa mencoba refleksikan hubungan seperti apa yang sering kita alami dan bagian mana yang terasa “mirip” dengan cerita keluarga. Bukan untuk menyalahkan, tapi untuk memahami.
- Kenali Trigger dan Respons Otomatis. Sering kali reaksi kita dalam hubungan itu otomatis, bukan sadar. Contoh: pasangan terlambat balas maka otomatis kita akan langsung cemas atau overthinking. Padahal itu bisa jadi sinyal dari rasa tidak aman yang pernah kita rasakan di masa lalu.
- Bangun “Template Baru” tentang Hubungan Sehat. Apabila dari masa kecil tidak memiliki contoh hubungan sehat, maka akan menjadi wajar apabila kita merasa bingung ketika mendapatkan pola hubungan yang berbeda. Kita bisa memulai dengan belajar batasan (boundaries) pada hubungan yang kita rasa kurang sehat, memahami komunikasi asertif serta mengenali red flags vs green flags yang ada di lingkungan kita sehari-hari.
- Perbaiki Hubungan dengan Diri Sendiri. Hubungan dengan diri sendiri adalah kunci yang sering dilewatkan oleh kita ketika sedang menjalin hubungan atau relasi dengan orang lain. Dalam banyak studi, kualitas hubungan dengan diri sendiri sangat berkorelasi dengan kualitas hubungan romantis. Untuk memperbaiki hubungan dengan diri sendiri, kita bisa mulai dari self-compassion atau tidak terlalu keras ke diri sendiri. Selain itu, kita bisa juga mulai untuk memahami kebutuhan emosional diri dan tidak terlalu memendam emosi. Terakhir, kita bisa belajar merasa “cukup” tanpa harus divalidasi terus.
- Jangan Ragu Mencari Bantuan Profesional. Mencari bantuan profesional bisa menjadi salah satu cara efektif untuk bisa membantu kita keluar dari “jeratan” masa lalu yang sering berulang. Pendekatan terapi yang digunakan oleh profesional seperti CBT, terapi berbasis attachment ataupun trauma-informed therapy bisa membantu mengurai pola yang sudah lama terbentuk.
Setiap kesadaran, setiap usaha kecil untuk mengenali pola, dan setiap keputusan untuk memilih hubungan yang lebih sehat adalah bentuk keberanian yang nyata. Prosesnya mungkin tidak instan dan cepat, namun perlahan kita sedang menulis ulang cerita baru yang lebih sehat. Bukan sedang mengulang luka, melainkan memutus siklus dan pola serta membangun hubungan yang lebih aman. Yang terpenting, dimulai dari hubungan dengan diri sendiri.
***



