Halo Momim & Dadin! Kerap kali, kita sebagai orang tua merasa senang ketika anak kita selalu menurut. Tapi, tahukah Momim & Dadin, anak yang selalu patuh belum tentu berarti anak paham atau mengerti apa yang kita minta? Seringkali anak menurut karena takut berpendapat atau takut melawan, bukan karena mereka benar-benar memahami dan setuju.
Kenapa Anak Bisa Hanya Menurut karena Takut?
Anak yang selalu menurut tapi tidak mengerti bisa jadi mengalami rasa takut akan konsekuensi jika mereka berbeda pendapat. Ini bisa terjadi jika anak merasa lingkungan kurang mendukung dalam mengutarakan pikiran. Penelitian oleh Baumrind pada tahun 1991 menunjukkan bahwa pola asuh yang terlalu otoriter bisa membuat anak cenderung takut berpendapat, sehingga kepatuhan mereka didorong oleh ketakutan, bukan pemahaman.
Cara Agar Anak Patuh dengan Hormat, Bukan Karena Takut
Patuh dengan hormat berarti anak melakukan sesuatu karena mereka mengerti nilai dan alasan di baliknya, bukan karena takut dihukum atau dimarahi. Berikut beberapa tips praktis yang bisa Momim & Dadin coba:
- Beri Penjelasan yang Jelas dan Usia Sesuai: Jelaskan alasan di balik aturan atau permintaan Momim & Dadin. Anak akan lebih mudah mengerti jika penjelasan disampaikan dengan bahasa yang sesuai usianya.
- Dengarkan Pendapat Anak: Ajak anak berdiskusi dan dengarkan apa yang mereka pikirkan. Ini membantu anak merasa dihargai dan membangun kepercayaan diri mereka.
- Gunakan Bahasa yang Positif dan Empati: Hindari ancaman atau makian. Gunakan kalimat yang membangun, misalnya “Momim & Dadin ingin agar kamu aman, makanya harus seperti ini.”
- Tegas tapi Kasih Sayang: Tunjukkan bahwa Momim & Dadin tegas dalam aturan tapi tetap penuh kasih sayang. Ini mencontohkan sikap hormat yang mengedepankan komunikasi bukan kekuasaan.
- Berikan Contoh Proaktif Berpikir Kritis: Ajak anak berpikir mengapa aturan itu penting dan bagaimana mereka bisa menerapkannya dalam keseharian. Ini melatih kemampuan berpikir kritis mereka.
Mengasah Berpikir Kritis Anak Tanpa Mengorbankan Kepatuhan
Menurut riset oleh Kuhn (1999), kemampuan berpikir kritis penting untuk perkembangan kognitif anak dan harus didukung oleh orang tua agar anak tidak takut mengutarakan opininya. Dengan membiasakan anak berdiskusi dan bertanya, anak akan memahami bahwa kepatuhan bukan berarti tanpa suara atau kritik, melainkan patuh dengan kesadaran.
Praktik di rumah bisa dimulai dari hal kecil, misalnya:
- Diskusikan konsekuensi ketika anak mengikuti aturan.
- Berikan ruang untuk anak bertanya “kenapa?” dari suatu perintah.
- Tunjukkan apresiasi saat anak mengungkapkan pendapat meski berbeda.
Kalau Momim & Dadin mau tahu lebih lanjut tentang bagaimana membangun kesabaran orang tua dalam menghadapi sikap anak dan membedakan parenting tradisional vs modern, bisa cek artikel ini dan ini. Jangan lupa juga baca kesalahan parenting yang sering terjadi dan panduan parenting anak untuk mendapatkan tips praktis yang bisa langsung diterapkan, ya!
Sudah Siap Bangun Kepatuhan dengan Hati?
Patuh karena takut mungkin mudah, tapi patuh karena mengerti itulah puncak keberhasilan komunikasi dalam keluarga. Yuk, mulai latihan bersama agar anak tidak hanya menurut, tapi juga berani berpikir kritis dan berani berpendapat.