Dalam kolom Teman Curhat kali ini, Hackortu menghadirkan kisah seseorang yang merasa tersakiti oleh sikap saudara ipar, namun tetap berusaha menjaga hubungan dalam keluarga.

Psikolog klinis dewasa yang berfokus pada penanganan isu kesehatan mental seperti kecemasan, relasi interpersonal, dan dinamika emosional pada individu dewasa.
Saya merasa hubungan saya dengan saudara ipar kurang nyaman karena beberapa sikapnya yang terasa menyakitkan, seperti membicarakan saya di belakang dan menunjukkan rasa tidak suka terhadap pencapaian saya.
Di satu sisi saya ingin menjaga hubungan keluarga tetap baik, tapi di sisi lain saya juga tidak ingin terus merasa seperti ini.
Bagaimana cara menyikapinya?
Jawaban dari Psikolog: Terima kasih sudah berbagi pengalaman Anda. Saya bisa membayangkan situasi tersebut tidak mudah dan wajar menimbulkan perasaan bingung bagi Anda.
Pada dasarnya, hubungan dengan saudara ipar punya dinamika yang tidak sederhana. Di satu sisi ada ikatan keluarga yang tentu ingin Anda jaga, namun di sisi lain ada perasaan yang terus-menerus terluka karena sikap yang Anda terima. Pertentangan dari dua keinginan itulah yang membuat situasi ini terasa melelahkan. Di satu sisi, Anda ingin bersikap baik, tapi kebaikan itu terasa tidak berbalas.
Sebelum menentukan langkah, ada baiknya Anda merenungkan kembali apa yang sudah dialami. Apakah sikap saudara ipar itu sudah terjadi berulang kali dan memang konsisten demikian, atau terjadinya terbatas pada konteks-konteks tertentu? Apakah ada hal tertentu yang membuat saudara ipar bersikap kurang baik? Pemahaman yang lebih lengkap dari sudut pandang saudara dan Anda akan membantu Anda merespons dengan cara yang lebih baik agar tidak perlu mengorbankan kesejahteraan Anda terus-menerus.
Jika setelah merenungkan hal tersebut Anda merasa ada ruang untuk berbicara secara langsung, komunikasi asertif bisa menjadi pilihan. Komunikasi asertif dilakukan dengan menyampaikan perasaan dan keberatan Anda secara jujur, tapi tetap tenang dan menghormati hubungan yang ada. Dalam konteks budaya kita, hal ini tidak harus dilakukan secara frontal. Anda bisa memilih momen yang tepat (terutama saat empat mata), menggunakan bahasa yang tidak menyudutkan, dan menyampaikannya dari sudut pandang perasaan Anda sendiri. Misalnya, “Saya merasa kurang nyaman ketika kamu melakukan ini.” daripada langsung menunjuk sikap yang dianggap salah. Anda juga dapat memberi saran respons yang lebih Anda sukai atau tidak menyakiti Anda, serta menanyakan pendapatnya. Pendekatan seperti ini memberi kesempatan bagi hubungan untuk diperbaiki, sekaligus menjaga martabat kedua belah pihak.
Jika sikapnya sudah terjadi berulang tanpa bisa didiskusikan secara sehat, ada beberapa hal yang bisa Anda pertimbangkan.
Jaga jarak secara wajar. Bersikap sopan dan ramah saat bertemu tetap bisa dilakukan tanpa harus memaksakan kedekatan. Hubungan yang sehat tidak harus selalu akrab. Anda bisa hadir dalam momen keluarga tanpa harus membuka diri sepenuhnya kepada seseorang yang belum tentu menunjukkan itikad baik.
Pilih respons, bukan reaksi. Tidak semua sikap perlu langsung ditanggapi. Saat ada ucapan atau tindakan yang menyakitkan, Anda boleh memilih untuk diam, membahas topik lain yang lebih minim potensinya untuk menjadi konflik yang tidak perlu, atau meninggalkan situasi itu. Memilih untuk tidak bereaksi adalah bentuk pengendalian diri. Respons yang tenang juga tidak memberi ruang bagi konflik untuk membesar.

Kenali batas Anda sendiri. Anda perlu tahu sampai mana Anda masih bisa menerima dan sampai mana perilaku saudara mulai terasa melampaui batas. Misalnya, seberapa banyak informasi pribadi yang Anda bagikan, seberapa sering Anda menghabiskan waktu bersama, atau topik apa yang Anda pilih untuk tidak dibahas. Batasan ini cukup Anda yang tahu dan pilih secara sadar serta konsisten.
Alihkan fokus pada hal yang bisa Anda kendalikan. Sikap saudara ipar berada di luar kendali Anda. Yang ada di tangan Anda adalah cara Anda merespons dan seberapa besar Anda membiarkan sikapnya mempengaruhi ketenangan hari-hari Anda. Energi yang selama ini tersita untuk memikirkan situasi ini bisa perlahan dialihkan ke hal-hal yang lebih bermakna bagi Anda.
Libatkan pasangan bila perlu. Kalau situasi ini mulai berdampak pada ketenangan rumah tangga, pasangan Anda perlu tahu dan memahami posisi Anda. Hal ini bukan bertujuan untuk memihak atau menciptakan konflik baru, tapi agar Anda tidak menanggung beban ini sendirian dan bisa menyepakati cara bersama yang lebih bijaksana.
Menjaga hubungan keluarga memang penting. Tapi kesehatan mental Anda juga sama pentingnya. Anda berhak merasa nyaman dan aman di dalam lingkungan keluarga sendiri. Kedua hal tersebut selayaknya bisa berjalan beriringan, dan tidak saling mengorbankan.
Ingin pertanyaanmu dijawab Teman Curhat? Kirim pertanyaanmu ke: hackortu@gmail.com dengan subject Teman Curhat.



