Dalam kolom Teman Curhat kali ini, Hackortu menghadirkan kisah seseorang yang mulai mempertanyakan dirinya sendiri di tengah tekanan lingkungan yang terus menyinggung soal pernikahan.

Psikolog yang berfokus pada penanganan trauma, kecemasan, dan berbagai tantangan emosional melalui pendekatan berbasis terapi. Ia juga mendampingi individu dalam memahami pola perilaku dan proses pemulihan diri, termasuk pada isu perkembangan anak, remaja, dan dinamika kehidupan dewasa.
Saya seorang laki-laki berusia 25 tahun dan saat ini bekerja di lingkungan di mana hampir semua rekan kerja saya sudah menikah.
Di tempat kerja, cukup sering muncul celetukan atau sindiran tentang pernikahan, seperti dorongan untuk segera menikah atau pertanyaan kapan menyusul. Awalnya saya menganggapnya sebagai candaan, tetapi karena terus berulang, lama-lama hal itu mulai mengganggu pikiran saya.
Saya jadi sering terdistraksi dan mulai mempertanyakan diri sendiri. Keinginan untuk menikah memang ada, tetapi sampai saat ini saya belum menemukan pasangan yang tepat, dan kondisi finansial juga belum sepenuhnya siap.
Situasi ini membuat saya bingung harus menyikapinya seperti apa. Saya ingin tetap menjalani hidup sesuai kesiapan saya, tetapi ucapan-ucapan tersebut sering kali ikut memengaruhi pikiran saya.
Bagaimana cara menyikapi tekanan seperti ini agar saya tetap bisa tenang dalam menentukan keputusan hidup saya sendiri?
***
Jawaban dari Psikolog: Di usia pertengahan 20-an, topik tentang pernikahan seringkali menjadi hal yang tidak terhindarkan. Apalagi ketika lingkungan sekitar, terutama tempat kerja didominasi oleh orang-orang yang sudah menikah. Pertanyaan seperti “kapan menyusul?” atau “kok belum nikah?” mungkin terdengar seperti candaan di awal. Namun, ketika terus diulang, hal ini bisa berubah menjadi tekanan yang cukup mengganggu secara psikologis.
Dalam psikologi, kondisi ini bisa disebut sebagai social pressure atau tekanan sosial, yaitu dorongan dari lingkungan yang membuat seseorang merasa perlu menyesuaikan diri dengan norma atau ekspektasi tertentu. Dalam banyak budaya, termasuk di Indonesia, pernikahan sering dianggap sebagai “tahapan wajib” dalam hidup. Akibatnya, orang yang belum menikah di usia tertentu bisa merasa tertinggal, meskipun sebenarnya belum siap.
Fenomena ini juga berkaitan dengan konsep social comparison theory, yang menjelaskan bahwa manusia secara alami cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai posisi atau pencapaiannya. Ketika hampir semua rekan kerja sudah menikah, tanpa disadari muncul pikiran seperti, “Apakah saya tertinggal?” atau “Ada yang salah tidak dengan saya?”. Padahal, perbandingan ini sering kali tidak sepenuhnya adil, karena setiap orang memiliki kondisi hidup, kesiapan emosional, dan perjalanan yang berbeda.
Selain itu, tekanan yang terus berulang juga bisa memicu respons stres. Stres tidak selalu berasal dari peristiwa besar, tetapi juga bisa muncul dari hal-hal kecil yang terjadi berulang kali (chronic stress). Candaan yang terus-menerus tentang pernikahan bisa menjadi micro-stressor—hal kecil yang tampak sepele, tetapi jika terjadi terus-menerus dapat mengganggu konsentrasi, menurunkan kepercayaan diri, dan membuat seseorang mulai mempertanyakan keputusan hidupnya sendiri.

Ternyata konflik yang muncul dalam situasi ini tidak hanya berasal dari luar atau lingkungan sekitar, tetapi juga dari dalam diri. Di satu sisi, ada keinginan pribadi untuk menikah. Di sisi lain, ada kesadaran bahwa belum menemukan pasangan yang tepat dan kondisi finansial belum sepenuhnya siap. Ketika dua hal ini bertemu dengan tekanan dari lingkungan, muncullah kebingungan dan ketidaknyamanan.
Lalu, bagaimana cara menyikapi kondisi seperti ini?
Langkah pertama adalah menyadari bahwa tekanan yang dirasakan itu valid. Merasa terganggu bukan berarti lemah, tetapi menunjukkan bahwa ada batasan pribadi yang sedang terusik. Penting untuk bisa membedakan antara “keinginan diri sendiri” dan “ekspektasi orang lain”. Tidak semua yang dianggap penting oleh lingkungan harus menjadi prioritas kita juga.
Berikutnya, kita bisa mulai membangun batasan (boundaries) secara perlahan. Tidak harus dengan cara konfrontatif, tetapi bisa dengan respons yang lebih netral atau ringan. Misalnya, menjawab dengan singkat tanpa membuka ruang diskusi lebih lanjut. Ini membantu menjaga ruang pribadi tanpa harus menciptakan konflik.
Selain itu, penting juga untuk mengelola pikiran yang muncul akibat tekanan tersebut. Dalam pendekatan Cognitive Behavioral Therapy (CBT), pikiran seperti “saya tertinggal” atau “saya tidak cukup baik” perlu dikenali dan diuji kembali. Apakah pikiran itu benar berdasarkan fakta, atau hanya asumsi yang terbentuk karena perbandingan sosial? Mengganti pikiran tersebut dengan perspektif yang lebih realistis dapat membantu mengurangi beban emosional.
Last but not least, memperkuat hubungan dengan diri sendiri juga menjadi kunci. Ketika seseorang memiliki pemahaman yang cukup tentang dirinya—termasuk nilai hidup, tujuan, dan kesiapan—maka pengaruh dari luar akan terasa lebih kecil. Keputusan untuk menikah bukan hanya soal “kapan”, tetapi juga soal “dengan siapa” dan “dalam kondisi seperti apa”. Menunda sampai benar-benar siap bukan berarti kalah cepat, tetapi bentuk pertimbangan yang matang.
Lingkungan mungkin akan terus berbicara, tetapi tidak semua suara perlu kita masukkan ke dalam diri. Dalam banyak kasus, orang-orang yang memberikan komentar sebenarnya tidak sepenuhnya memahami kondisi kita. Apa yang mereka sampaikan sering kali hanya refleksi dari norma atau kebiasaan, bukan penilaian yang benar-benar personal.
Pada akhirnya, tekanan dari lingkungan memang tidak selalu bisa kita hentikan, tetapi kita bisa belajar untuk tidak membiarkannya mengendalikan arah hidup kita. Setiap orang punya waktunya masing-masing, termasuk dalam hal pernikahan. Memilih untuk menunggu sampai benar-benar siap, baik secara emosional maupun finansial, bukanlah sebuah keterlambatan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri. Pelan-pelan, ketika kita mulai lebih percaya pada proses hidup yang kita jalani, suara-suara dari luar akan terasa semakin pelan, dan keputusan yang kita ambil pun menjadi lebih tenang dan utuh berasal dari diri kita sendiri.
***



